Mata Expose

Jika Ada Pihak Instansi Pemerintahan dan Swasta Maupun Pribadi yang merasa di Rugikan oleh Oknum yang mengaku mengatasnamakan Jurnalis MEDIA MATAEXPOSE.COM Tanpa Ada Tercantum Namanya di Box Redaksi Maka Bukan Wewenang dan Tanggung Jawab Redaksi MEDIA MATAEXPOSE.COM atau Silakan Laporkan Kepada Pihak Yang Berwajib.
Keluhan Peternak Terdampak PMK Miris Terkait Bantuan Dari Pemerintah Yang Terkesan Lamban

Ponorogo, mataexpose.com – Kurang lebih 86 ekor sapi perah di Desa Pudak Kulon, Kecamatan Pudak suspek penyakit mulut dan kuku (PMK). Para peternak pun mengeluhkan kondisi ini. Sebab, mereka tidak bisa setor susu sapi segar ke pabrik.Mereka tak mendapat pemasukan sama sekali.

Ambar Suyanto mengatakan dari 24 ekor sapi miliknya dia mampu menghasilkan 200 liter susu segar yang disetorkan ke pabrik susu. Namun karena sapi perahnya disuntik obat antibiotik, otomatis pabrik tidak menerima susu segar dari kandangnya.

“Tiap hari saya membuang 200 liter susu sapi selama 14 hari,” tutur Ambar kepada wartawan, rabu (06/7/2022).

Ambar menambahkan selama 12 hari ini setidaknya dia mengalami kerugian Rp 17 juta. Belum lagi ditambah biaya pengobatan 24 ekor sapi, senilai Rp 48 juta.
“Selama 14 hari ini kerugian total Rp 65 juta, untuk pengobatan dan membuang susu sapi,” Ungkap Ambar.

Ambar pun mengaku hingga saat ini tidak ada bantuan sama sekali dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo. Baik berupa obat atau bantuan dana.

“Dari pihak dinas kami minta kebijakan ada bantuan obat maupun vaksinasi untuk masyarakat peternak di sini,” imbuh Ambar.
Ambar pun menerangkan meski suspek PMK sapi perah terdeteksi pertama kali. Dia memohon agar tidak dikucilkan oleh masyarakat.

Dia pun tidak mengetahui penyebab virus PMK dari mana sumbernya.
“Di Desa Pudak Kulon yang pertama kali terdeteksi adalah saya, saya mohon jangan mengucilkan yang terdeteksi PMK pertama. Yang namanya virus tidak tahu bersumber dari mana penyebarannya,” Ungkap Ambar.

Kades Pudak Kulon Sujadi menambahkan per Senin (06/7/22) di desanya ada 86 ekor sapi suspek PMK. Gejalanya, kaki bergetar dan melepuh, ludah berlendir banyak serta tidak mau makan.

“Keluhan peternak, terkena PMK tidak ada pemasukan. Nggak bisa kirim susu. Terus juga kena sanksi sosial dari warga lain,” ujar Sujadi.

Sujadi menambahkan di desanya ada 3 ribu ekor sapi perah. Mata pencaharian utama mereka adalah susu sapi yang disetor ke pabrik. Selain itu, meski satu ekor yang terinfeksi PMK maka total satu kandang tetap mendapatkan perawatan baik obat dan vitamin.

“Warga saat ini tidak ada pemasukan sama sekali karena susu dibuang, ditambah periksa suntik obat itu juga kebanyakan masih kasbon,” Tutupnya.

Dhony Irawan

 

Bagikan:
Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp